105 Ribu Orang Hadiri Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah

بسم الله الرحمن الرحم

JAKARTA--Sebanyak 105 ribu orang menghadiri acara Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah Syaikh Prof. Dr. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr. Ketua Panitia Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah, Abu Abdurrahman Sapta mengatakan, tabligh akbar tersebut merupakan tabligh akbar yang terbanyak yang dihadiri jamaah. "Sebab pada tabligh akbar yang pernah diselenggarakan sebelumnya yakni pada tahun 2004 dan 2006 hanya dihadiri sekitar 35 ribu orang. Sehingga saat ini merupakan tabligh akbar terbesar," katanya di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad ( 17/1).

Jumlah jamaah yang melonjak tiga kali lipat, kata Sapta, disebabkan masyarakat sudah familiar dengan Syaikh Rozzaq karena beliau sering mengisi acara ceramah di Radio Rodja 756 am yang isinya seputar dakwah Islam, kedalaman ilmu beliau sebagai Guru Besar Jurusan Aqidah di Universitas Islam Madinah, dan isi ceramahnya yang sesuai dengan kehidupan saat ini.

Tema yang dalam tabligh akbar ini, terang Sapta, adalah sebab-sebab datangnya kebahagian. "Tema tersebut sangat cocok dengan kondisi dan kehidupan masyarakat. Kita lihat masyarakat masih bingung mencari hakikat kebahagian.Mereka juga mempunyai orientasi kehidupan duniawi. Padahal semakin dunia dikejar yang datang adalah kegelisahan. Orang-orang banyak yang merasa tidak tentram, takut kematian, hubungan dengan keluarga tidak harmonis. Selain itu masyarakat juga banyak mengalami musibah seperti musibah ketidaktrentaman dan masyarakat tidak harmonis," terangnya.

Masyarakat, ujar Sapta, juga banyak yang salah dalam melihat kebahagiaan. " Mereka mencari kebahagiaan dengan mencari harta sebanyak mungkin. Sehingga banyak timbul berbagai masalah, seperti korupsi atau mencari harta hingga lupa diri dan melalaikan anak-anaknya yang perlu mendapatkan bimbingan. Sehingga anak-anak banyak yang kurang terarah hidupnya karena kurang perhatian," ujarnya.

Tujuan dari tabligh akbar ini, kata Sapta, memberikan pemahaman kepada masyarakat se-Jabodetabek tentang paradigma yang benar mengenai kebahagiaan. "Kebahagiaan sebenarnya tidak hanya diukur dengan pencapaian material. Namun pencapaian spiritual itulah yang penting. Dengan demikian harta akan mengikuti karena sebenarnya harta itu mengikuti ibadah dan semua yang memberikan itu adalah Allah SWT. Jika orang ingin bahagia maka harus mempelajari Al Qur,an dan Hadist," katanya.

Dengan acara tabligh akbar ini, terang Sapta, diharapkan umat Muslim semakin bersatu. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa Nabi pernah bersabda akan terjadi banyak perpecahan pada akhir zaman."Namun Nabi selalu mengingatkan solusi dari masalah itu adalah kembali kepada Sunnah Rasul. Semua petunjuk sudah ada dalam Al Qur,an dan Hadist. Namun harus dipahami dengan pemahaman yang betul," terangnya.

Dalam acara ini, ujar Sapta, secara kuantitatif tidak ada target. "Kami hanya berusaha menyampaikan hal yang baik kepada khalayak. Namun rupanya dengan tampilnya Syaikh Rozzaq, ulama yang disegani di dunia, bahkan beliau ulama yang mendapat gelar profesor paling muda, ayahnya juga ulama yang disegani, ternyata jamaah yang datang melebihi perkiraan yang semula hanya 35 ribu orang," ujarnya.

Rupanya acara tabligh akbar dicintai masyarakat, kata Sapta, sehingga pihaknya berencana mengadakan acara tersebut setahun sekali dengan mendatangkan para ulama dari Timur Tengah. "Kami merasa perlu memberikan contoh kepada masyarakat dengan apa yang disebut ulama. Sebab masyarakat kita sangat mudah menganggap seseorang itu ulama. Padahal orang yang mereka sebut ulama tersebut kehidupannya sering tidak sesuai nilai-nilai Islam. Dan Syaikh Rozzaq merupakan contoh ulama yang pas karena beliau tawaduk, cinta ibadah, shalat malam hampir tak pernah ketinggalan,menghormati orangtuanya," katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Humas Panitia Acara Tabligh Akbar Bersama Ulama Madinah, Achmad Rizal menambahkan, dengan adanya tabligh akbar tersebut, masyarakat diharapkan menjadi lebih dekat dengan ulama mereka untuk bertanya mengenai hal-hal yang menyangkut masalah dunia dan akhirat. "Sebab ulama merupakan para pewaris ilmu Nabi dan dengan imu orang bisa mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat," katanya.

Kesulitan yang dialami dalam acara ini, ujar Rizal, adalah masalah fasilitas. "Sebab orang yang hadir banyak sekali. Sehingga terjadi banyak antrian parkir, antrian toilet, dan sounds sistem yang kurang memadai. Semoga hal ini menjadi catatan positif bagi pihak pengelola Masjid Istiqlal supaya melakukan sejumlah perbaikan yang dianggap perlu. Semoga kami juga bisa melakukan kerja sama yang lebih baik lagi," ujarnya.

Semoga, kata Rizal, dengan acara ini umat Muslim bisa terdorong untuk mencapai kemajuan yang tentu harus diraih dengan ilmu dan diiringi dengan amaliah soleh sesuai petunjuk Nabi. "Jangan sampai berilmu dan beramal tidak sesuai petunjuk Nabi. Selain itu, kita harus yakin kemajuan akan tercapai seperti pada masa Khulafaur Rasyidin di mana Islam mencapai kekuasaan hingga mencapai timur dan barat.

Kita harus menimba ilmu dari ulama-ulama yang mempunyai pemahaman benar sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in , tiga generasi awal Islam yang harus dicontoh. Dengan pemahaman yang sama umat muslim tidak akan terpecah-pecah," katanya.


Sumber : http://www.republika.co.id/node/101323

0 komentar:

Posting Komentar