Jangan Anggap Enteng Dehidrasi!

Sekitar separuh orang dewasa dan remaja di Indonesia mengalami dehidrasi ringan atau kekurangan air tubuh pada tingkat ringan. Demikian diungkapkan Prof Dr Ir Hardiansyah MS, Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia, dalam ceramahnya saat Simposium Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) "Hydration and Health" di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (21/3/2010).

Angka ini diperoleh dari hasil penelitian The Indonesian Hydration Study (Thirst) yang dilakukan melalui pemeriksaan urine di laboratorium terhadap 1.200 sampel di wilayah Jakarta, Lembang, Surabaya, Malang, Makassar, dan Malino. Selain itu, penelitian yang dilakukan secara kolaboratif oleh tiga perguruan tinggi, yakni FEMA IPB, FKM UNAIR, dan FKM UNHAS, ini juga mencatat bahwa kejadian dehidrasi ringan pada remaja lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, kejadian dehidrasi ringan pada daerah dataran rendah yang panas lebih tinggi dibandingkan daerah dataran tinggi yang sejuk.

Pemicu terjadinya dehidrasi ringan ini umumnya adalah ketidaktahuan dan kesulitan masyarakat dalam memperoleh air bersih atau air minum. Enam dari sepuluh responden (sekitar 60 persen) dalam penelitian tersebut pun tidak mengetahui bahwa diperlukan air minum yang lebih banyak bagi ibu hamil dan menyusui serta bagi orang yang berada dalam lingkungan dingin.

Terkait hasil-hasil penelitian tersebut, Prof Dr Ir Hardiansyah, MS, mengimbau agar masyarakat jangan lagi meremehkan dehidrasi yang terjadi pada tubuh mereka. "Jangan anggap enteng kekurangan air tubuh," ungkapnya. Kekurangan air sedikit saja dapat menyebabkan berbagai gangguan pada tubuh.

Kekurangan air tubuh 1 persen dapat menimbulkan rasa haus dan gangguan mood; kekurangan air tubuh 2 sampai 3 persen dapat meningkatkan suhu tubuh, rasa haus, dan gangguan stamina; kekurangan air tubuh 4 persen dapat menurunkan kemampuan fisik hingga 25 persen; dan seseorang bisa pingsan apabila kadar air dalam tubuhnya berkurang sampai 7 persen.

Tak hanya itu, penelitian-penelitian mutakhir lain juga menunjukkan bahwa kurangnya asupan cairan, khususnya air ke dalam tubuh, dapat meningkatkan risiko timbulnya penyakit-penyakit seperti batu ginjal, infeksi saluran kencing, kanker usus besar dan saluran kencing, konstipasi, obesitas pada anak dan remaja, hipertensi dan tromboemboli vena, jantung koroner, stroke pembuluh darah otak, gangguan fungsi kelenjar ludah, hingga gangguan kesehatan lansia secara umum.



Sumber : Kompas.com